Showing posts with label Smandel 87. Show all posts
Showing posts with label Smandel 87. Show all posts

Saturday, January 8, 2011

Jengkolers


Kehidupan yang transparan alias apa adanya mungkin hanya ada di acara perkemahan, yang jarang mandi ketahuan, yang jarang sikat gigi apalagi, nah kali ini aku ingin menulis tentang komunitas yang suka makan jengkol, aku menyebutnya Jengkolers.

iiiihh... ada mr O....

Ceritanya dimana lagi kalau bukan di Family Camp Expa 2011, di sini tempatnya orang yang udah nggak malu-malu lagi makan jengkol, buat Jengkolers makanan terenak di dunia bukan rendang, jengkol tentu saja.
Tanda-tanda jengkol bakalan banyak ditemukan di sini, sudah tercium sejak aku datang, Acing dan Titi yang membawa rendang jengkol yang melengkapi nasi pepes, ayam goreng dan lalapan. Pagi-pagi hari kedua Mei ’87 sudah bercuap-cuap kalau dia bawa jengki, Idom Suridom ’87 nggak mau kalah, “Gue juga bawa”.

Saat makan siang Jumar the propeller ’86 menunjukkan keunikan jengkol mentah kesukaannya bentuknya seperti kancing kemeja, “Elo mau nyobain nggak? Enak nih!”. Demi pergaulan, aku terima tantangan itu, biasa aja!.
Semakin sore semakin terlihat Jengkolers semakin memperluas jejaringnya dengan merekrut Jengkolers baru, kali ini di bale-bale dan yang menjadi sasaran Vini, di situ sudah ada Bonny ’82, Qifty ’86, Bonyo dan istrinya ’86, Wawan ’86, Rika ’86, Ajay ’88 dan istrinya Lia ’91 dan Jengkolers lain yang tidak dapat disebutkan satu persatu, mereka menikmati rendang jengkol masakan Emak, pembantu setia Bonyo. Aku ingat banget setiap kata yang diucapkan salah satu Jengkolers sejati, Lia, “Jangan diabisin dong!, sisain buat Arzeti buat nanti malem, dia suka banget. Dia nggak mau makan sekarang soalnya dia lagi mau jadi juri (Smandel Idol)”.
“Arzeti …!!, Peragawati makan jengkol ….!!”, mungkin itu yang ada dibenak kamu.


Jalannya upacara pengangkatan Vini menjadi Jengkolers aku ceritakan agak terinci. Vini yang mengaku belum pernah makan jengkol piring makannya diberi sekeping rendang jengkol, “Cobain deh Vin, enak banget!”.


Vini mengambil jengkol dengan tangan kanannya lalu mulai mengigitnya, sesuap nasi menemani si jengkol untuk dikunya Vini, wajah Jengkolers sedikit cemas sambil berharap Vini kelak menjadi Jengkolers sejati, sama seperti mereka. Vini mulai menelan, Jengkolers mulai penasaran, “Gimana Vin, gimana Vin? Enak nggak?”.
Vini mengernyitkan dahi, “Belum ketahuan rasanya, Vini coba sekali lagi”, Vini memakannya sekali lagi sementara Jengkolers menelan liur.
“Kata Vini sih ……!”, Vini mulai memberikan penilaian.
“Terus Vin …., terus Vin …..”, Jengkolers semakin penasaran.
“Kata Vini sih biasa aja .......! Abis Vini nggak tahu sih enaknya dimana?”.
“Aaahhhhhhhh….. !!!!”, pernyataan Vini membuat Jengkolers kecewa, tetapi mereka tetap berbesar hati dengan memberikan Vini kartu ketua Jengkolers.
“Kok langsung dikasih kartu ketua sih?”.
“Soalnya anggaran Jengkolers terbatas, mereka nggak bisa menyetak kartu anggota, yang dibuat semuanya kartu ketua".

Friday, January 7, 2011

Welcome to FamCamp 2011

Perjuangan kami menuju Cidahu pantas dipuji sebab mulai dari keluar tol Ciawi sampai persimpangan Cicurug mobil berjalan merayap bahkan terkadang harus ngesot, macet banget!.

Mampir dulu di dua tempat, pertama mesjid baru di sisi kanan menuju Lido yang bisa dikatagorikan sebagai bangunan mewah untuk menunaikan shalat Ashar, kedua warung kopi untuk membeli 3 teh manis panas yang dibungkus plastik, sebut saja namanya teh plastik, sekaligus menyeduh mie instan untuk makan malam Hani, maklum sudah waktu Magrib sedangkan Cicurug belum juga lewat.

Siaran radio yang dapat diterima dengan jelas hanya musik gambus, lama-kelamaan aku bisa menikmatinya, enak juga!. Akhirnya kami mempuyai pilihan setelah bisa menangkap siaran lain dari Sukabumi.

Mendekati area perkemahan kami dipungut restribusi oleh petugas berpakaian hansip yang lebih tepat disebut tukang catut, karena si Tutut, maksudku si tukang catut, meminta kami membayar 8 ribu sementara yang diserahkan hanya 2 tiket bernilai 4 ribu dan selembar bonggol karcis.

Di tempat parkir pengeluaran bertambah 10 ribu untuk karcis parkir prabayar, artinya harus membayar 10 ribu dulu untuk memperoleh lahan parkir selama 2 hari 2 malam.

Akhirya sampai juga di perkemahan Batu Tapak yang menjadi lokasi Family Camp kali ini. Ritual pertama pendaftaran ulang di bale-bale bambu yang dijaga Ines 85 dan Jati. Uang Rp 125 ribu ditukar dengan 6 lembar kupon makan dan selembar slayer berwarna oranye. Beberapa majalah sepakbola boleh diambil gratis disini termasuk koran Sinar Harapan dan Koran Jakarta edisi 6 Januri yang berisi iklan Family Camp, duh gaya!.

Di bale-bale lain teronggok lelaki gempal dan kumel sedang tidur, terlihat kurang fit, cocok dengan namanya Gembel ’85.

Makan malam berupa nasi putih, sup wortel jagung, balado hati, rempelo dan jantung ayam buatan crew Edoy’83 enak banget ditambah rebusan jagung, singkong, ubi yang boleh diambil sesuka hati. Selepas makan aku kembali ke bale pendaftaran.

Peserta yang baru tiba terlihat antusias dan ceria, sambutannya juga meriah, seperti yang satu ini.
“Kalau mau diangkut gerobak, barang-barangnya ditaro di sini aja!”
Pesertapun meletakan bawaannya di lantai tak lama kemudian diangkat lagi setelah Tirton ’83 melanjutkan kalimatnya, “Tapi gerobaknya harus ditarik sendiri!”, sebagai pengganti ucapan "Welcome to FamCamp 2011".

Tuh kan, anak Expa mana ada yang bener, kalau ada yang bener itu juga gara-gara salah makan.